WELCOME TO "O-REZ" BLOG

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam Budaya!!!

Wellcome to my blog !
Selamat datang teman-teman pecinta budaya ... Blog ini O-Rez buat untuk memberi sedikit bantuan kepada teman-teman yang sedang membutuhkan naskah-naskah teater, cerpen, maupun monolog. Tak perlu panjang lebar, silahkan nikmati naskah-naskahnya !!!
Semoga berguna !!!

Keep Smiling From O-Rez :)

Label

Minggu, 07 Oktober 2012

PELAJARAN-PELAJARAN


PELAJARAN-PELAJARAN
Bakdi Soemanto

Para Pelaku :
  1. Sang Pemuda
  2. Sepuluh orang pemuda berpakaian seragam


Panggung menggambarkan sebuah ruang yang luas, tidak ada perlengkapan apa-apa. Kekosongan ruang itu menampilkan suatu situasi; nganga yang menentang, nganga yang mencemooh, bahkan nganga yang menuntut suatu nilai yang bakal diberikan oleh para pemain nantinya. Situasi demikian itu menjadi sumber inspirasi munculnya para pemain nantinya.

01.   (Sepuluh orang pemuda, yang berpakaian seragam, masuk berbaris seperti tentara. Sesudah mereka berjalan di tempat, barisan itu memecah menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok terdiri atas lima orang. Satu kelompok menuju ke kanan, satunya menuju ke samping kiri. Secara bersama-sama mereka membungkuk. Secara bersama-sama pula mereka mengucapkan salam, “Selamat pagi, Pak. Selamat siang, Bu. Selamat sore semuanya.”Kemudian mereka kembali menjadi statis, menampilkan kehadiran seperti patung-patung)
02.   (Dua orang petugas perlengkapan masuk membawa sebuah knap, menempatkannya di tempat kedua kelompok manusia-manusia patung itu).
03.   Pemuda      : (seorang pemuda dengan pakaian rapi, lengkap dengan sepatu yang rapi, dua bolpoin merah dan hitam di saku bajunya yang putih, masuk ke panggung dengan cara berjalan yang berlagak gagah. Ia menjinjing buku setumpuk, yaitu buku-buku pelajaran sekolah. Sesampainya di depan knap, ia menempatkan diri sejajar dengankedua kelompok itu, menghadap ke arah yang sama pula dengan mereka. Pemuda itu berdiri tegak dan tega)
04.   (Kedua kelompok manusia patung membungkuk bersama sambil berkata secara bersama-sama pula, “Selamat pagi, Pak. Selamat siang, Bu. Selamat sorelah semuanya.”)
05.   Pemuda      : Selamat pagi. Terima kasih. (Pemuda itu lau menempatkan buku-bukunya di knap). Nah, sekarang mulai dengan pelajaran-pelajaran.
06.   (kedua kelompok manusia patung lalu berjalan urut ke depan pemuda, kemudian duduk mendengarkan kata-katanya)
07.   Pemuda      : Bagus. Terpujilah engkau generasi baru, yang dapat mewarisi disiplin yang baik. (menatap arloji, mengerutkan dahi) Tepat saatnya kita ucapkan Panca Prasetia Siswa.
08.   (kelompok manusia patung lalu berdiri dengan tegap. Salah seoarng diantara mereka menghadap si Pemuda, menjadi wakil kelompok)
09.   Pemuda      : (memberikan secarik kertas)
10.   Wakil                     : (menerima kertas tersebut, kemudian membacanya dengan keras) Satu: Kami siswa-siswa SMTA bersemangat satu, berkesetiaan satu, bercita-cita satu.
11.   Kelompok              : (menirukan)
12.   Wakil                     : Dua: Kami siswa-siswa SMTA ber-Tuhan satu.
13.   Kelompok              : (menirukan)
14.   Wakil                     : Tiga    : Kami siswa-siswa SMTA berjalan pada rel satu.
15.   Kelompok              : (Menirukan)
16.   Wakil                     : Empat : Kami siswa-siswa SMTA berkepribadian satu
17.   Kelompok              : (menirukan)
18.   Wakil                     : Lima : Kami siswa-siswa SMTA adalah satu, dan bakal tetap menjadi satu.
19.   kelompok               : (menirukan)
20.   Wakil                     : (Kembali ke barisannya)
21.   Pemuda                  : Pelajaran yang kedua, kita mengenangkan dan merenungkan serta mendoakan arwah nenek moyang kita, Adam dan Hawa, yang telah berjasa melahirkan kita, karena dosanya, telah memakan buang larangan itu. Mulai....cukup.
22.   (Pemuda memberi istirahat agar kelompok manusia patung duduk dengan tenang)
23.   Pemuda                  : Pelajaran ketiga untuk pagi ini adalah mengingat peraturan-peraturan sekolah kita. Satu : pakaian seragam, tidak boleh merokok, tidak boleh menyedot ganja, tidak boleh pacaran, tidak boleh membaca buku-buku porno, tidak boleh pakai sandal. Kedua : harus ada izin setiap tidak masuk, harus menghormati guru, harus menurut kata-kata guru. Ya?!
24.   Kelompok              : (memandang Sang Pemuda)
25.   Pemuda                  : (memberi aba-aba seperti seorang dirigen)
26.   Kelompok              : (serentak) Yaaaaaa.
27.   Pemuda                  : Nah, ini namanya satu bahasa. Jadi tidak dua bahasa.
28.   Kelompok              : (memandang lagi kepada sang Pemuda)
29.   Pemuda                  : (memberi aba-aba)
30.   Kelompok              : (berkata bersama) Bukaaann.
31.   Pemuda                  : Hebat. Pelajaran Budi Pekerti dimulai. Semua telinga dipersiapkan.
32.   Kelompok              : (meraba-raba telinganya sendiri secara bersama-sama)
33.   Pemuda                  : Generasi kalian tengah mengalami dekadensi moral. Banyak yang ngebut, banyak yang menyedot ganja, banyak yang tidak disiplin. Oleh karena itu, kalian harus menjauhi mereka yang suka ngebut, agar kalian tidak kena pengaruh. Kalian harus berjalan di atas satu rel, agar sampai kepada kebahagiaan, tidak hanya di dunia saja, tetapi juga di akhirat nanti. Mengapa begitu?
34.   Kelompok              : (diam)
35.   Pemuda                  : Mengapa?
36.   Kelompok              : (Berkata bersama) Mengapa?
37.   Pemuda                  : Jadi kalian juga tidak mengerti bahwa begitu itu adalah, apa...sebabnya...a..aa...dekadensi moral, apa itu subversi kebudayaan...? Tidak?
38.   Kelompok              : Tidaaaakkk.
39.   Pemuda                  : Bagus. Saya juga tidak mengerti. Tetapi, jangan khawatir bahwa kita tidak mengerti itu. Kita punya buku-buku peraturan. (Mengambil buku yang teratas) Di sini dikatakan bahwa di negara-negara Barat telah timbul dekadensi moral. Dan kita kena pengaruhnya. (mengambil buku kedua) Di sini dikatakan yang dimaksudkan orang-orang Hippies itu, bahwa mereka menunggu maut sambil menghabiskan waktunya. (Mengambil buku ketiga) Di sini dikatakan, kita harus membangun. Dengar?
40.   Kelompok              : Dengaarrr.
41.   Pemuda                  : Ya, membangun.
42.   Kelompok              : Membanguuuuun.
43.   Pemuda                  : Membangun itu tidak hanya membangun gedung saja, tetapi juga membangun mental.
44.   Kelompok              : Mental
45.   Pemuda                  : Di samping bahaya dekadensi moral, ada lagi bahaya lain, ialah bahaya komunis.
46.   Kelompok              : Bahaya komunis.
47.   Pemuda                  : (Mengambil buku keempat) Di sini dikatakan membendung bahaya itu. Dengan apa?
48.   Kelompok              : Dengan apaaaa?
49.   Pemuda                  : Dengan apa?
50.   Kelompok              : Dengan apaaaa?
51.   Pemuda                  : Saya bertanya.
52.   Kelompok              : Saya Bertanya.
53.   Kelompok              : Goblok!!!
54.   Pemuda                  : Dengan surat bebas G-30-S.
55.   Kelompok              : Dengan surat bebas G-30-S
56.   Pemuda                  : Hebat.
57.   Kelompok              : Hebaaaat.
58.   Pemuda                  : Di samping itu kita harus ingat sejarah Majapahit.
59.   Kelompok              : Majapahit.
60.   Pemuda                  : Gajah Mada
61.   Kelompok              : Gajah Mada
62.   Pemuda                  : Baik
63.   Kelompok              : Baik
64.   Pemuda                  : Cukup
65.   Kelompok              : Cukup
66.   Pemuda                  : (Mengambil buku kelima) Pelajaran lanjutannya. A, i, u, e, o.
67.   Kelompok              : A, i, u, e, o.
68.   Pemuda                  : En, i, en, i, ... ni-ni
69.   Kelompok              : En, i, en, i, ... ni-ni
70.   Pemuda                  : Bagus
71.   Kelompok              : Bagus
72.   Pemuda                  : (menata buku)
73.   Kelompok              : (berdiri, berjalan ke samping kanan dan kiri, lalu berkata) Selamat pagi, Pak. Selamat siang, Bu. Selamat sorelah semuanya.
74.   Pemuda                  : (Pergi membawa buku-buku
75.   (Dua orang petugas perlengkapan masuk, mengambil knap, membawanya pergi)
76.   Kelompok berbaris berkeliling dua kali sambil berkata, “A, i, e, u, e, i, ni-ni. A, i, u, e, o, ni-ni.” Mereka menuju ke luar panggung.
77.   Tinggal seorang yang masih berkeliling sendirian. Semakin lama dia berjalan semakin cepat, sambil terus berkata, “i, u, e, o, ni-ni.” Ia berputar, berpusingan, lalu rebah. Sesaat kemudian ia bangkit, memandang berkeliling. Ruangan kosong menganga, menantang arti. Lalu ia berteriak lantang, “Siapa aku?”

**

Diketik ulang oleh: Ni Ketut Anis Widhiani

1 komentar:

  1. adakah naskah lengkap pelajaran2 ini. jika ada bisakah saya mengcopynya? trimaksih atas perhatianya.

    BalasHapus