WELCOME TO "O-REZ" BLOG

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam Budaya!!!

Wellcome to my blog !
Selamat datang teman-teman pecinta budaya ... Blog ini O-Rez buat untuk memberi sedikit bantuan kepada teman-teman yang sedang membutuhkan naskah-naskah teater, cerpen, maupun monolog. Tak perlu panjang lebar, silahkan nikmati naskah-naskahnya !!!
Semoga berguna !!!

Keep Smiling From O-Rez :)

Label

Kamis, 11 Oktober 2012

TAWUR MUNYUK (PERANG MONYET)


TAWUR MUNYUK (PERANG MONYET)
OLEH: EKO OMPONG






Para Pelaku :


1.   Bapa Ajar                   :

2.   Sabaguna                    :

3.   Sabasekti                    :

4.   Ki Lurah                     :

5.   Nyi Lurah                   :
6.      Ki Jagabaya               :
7.   Kinanthi                      :
8.   Ki Dukuh                    :
9.   Nyi Dukuh                  :
10. Girasmara                  :
11. Abdi  Growol              :
12. Emban Gones :
13. Dewa Narada             :
14. Monyet Merah          :
15. Monyet Putih             :















Bengkel Teater PPPG Kesenian Yogyakarta
© 2003


TAWUR MUNYUK (PERANG MONYET)
OLEH: EKO OMPONG



Adegan I

            Padepokan. Tampak Sabaguna dan Sabasekti sedang melatih ilmu beladiri yang telah mereka pelajari dari Bapa Ajar. Kedua murid Padepokan itu sama-sama tangguh dan memiliki kesaktian yang seimbang. Bapa Ajar mengamati proses latihan kedua murid tersebut. Setelah latihan selesai, berujar Bapa Ajar;
           
Bapa Ajar                    : Bagus, bagus. Hem… Sabaguna dan Sabasekti.

Sabaguna+Sabasekti    :  Ya Bapa.

Bapa Ajar                    :  Kiranya, sudah cukup aku memberikan semua pengetahuan yang aku pahami dan sudah cukup pula aku mengajarkan kepada kalian tentang ilmu beladiri. Untuk itu, sudah waktunya bagi kalian membaktikan diri kepada masyarakat dan tetaplah berjalan pada jalan yang benar serta berpihak pada yang lemah.

Sabaguna+Sabasekti    :  Baik Bapa.

Bapa Ajar                    :  Selanjutnya aku ingin tahu apa rencana kalian ke depan.

Sabaguna                     :  Bakti saya Bapa. Setelah mendapatkan ilmu kehidupan dan kesaktian dari Bapa, saya ingin menjadi prajurit, membela bangsa dan negara.

Bapa Ajar                    :  Bagus, bagus. Bagaimana denganmu Sabasekti?

Sabasekti                     :  Bakti saya Bapa. Saya ingin meyebarkan semua pengetahuan yang telah saya pelajari dari Bapa selama ini kepada masyarakat luas. Saya ingin mendidik masyarakat dengan filsafat hidup dan keutamaan sifat satria seperti yang telah Bapa tanamkan pada saya dan Sabaguna.

Bagus Ajar                   :  Bagus, bagus. Ah, aku merasa bangga mempunyai murid seperti kalian berdua. Aku tidak bisa memberikan apa-apa lagi selain doa keselamatan dan kesejahteraan bagi langkah kalian ke depan.

Sabaguna+Sabasekti    :  Terima kasih Bapa.

Mereka kemudian menyalami dan mencium  tangan Bapa Ajar.

Sabaguna+Sabasekti    :  Kami pamit Bapa.

Bapa Ajar                    :  Ya, restuku bersama kalian.

Adegan II

            Girasmara sedang dilanda asmara. Ia membaca puisi untuk Kinanthi yang tidak ada di tempat itu.

Girasmara                     :  Oh Putri yang ayu rupawan, wajahmu seperti rembulan. Ingin aku menciummu sehari semalam. Cintaku tiada tertahan. Oh, Kinanti cantik, tuturmu halus dan matamu lentik. Jika kau bunga pasti akan ku petik.

Nyi Dukuh                    :  (Datang dan memandang anaknya dengan heran.) Girasmara! Kau itu sedang apa. Siang-siang kok mengigau.

Girasmara                     :  (Membaca puisi seolah-olah Ibunya adalah Kinanthi.) Oh Kinanthi, putri seksi, putri idaman setiap lelaki.

Nyi Dukuh                    :  He, he! Aku ini ibumu bukan Kinanthi, ingat Girasmara! (Girasmara memegang tangan Ibunya.) Sadar Girasmara, pak… pak ini bagaimana pak!

Ki Dukuh                     :  Girasmara! (Melepaskan Nyi Dukuh dari cengkeraman tangan Girasmara.) Sudah gila kau rupanya, ingat! Ini ibumu dan aku bapakmu! Sebetulnya ada apa dengan kau?!

Girasmara                     :  (Malau-malu.) Aku ingin… mempersunting Kinanthi pak.

Ki Dukuh                     :  Bukankah aku sudah bilang bahwa kau harus bersabar dahulu. Kita tunggu hari baik dan kita harus mempersiapkan segala sesuatunya.

Girasmara                     :  Aku pingin menikah dengan Kinanthi sekarang juga!

Nyi Dukuh                    :  Sabarlah sebentar Girasmara.

Girasmara                     :  Dari dulu disuruh sabar terus, buktinya mana?! Sampai sekarang aku juga belum dilamarkan. Pokoknya aku nggak peduli pendapat bapak dan Ibu, aku melamar Kinanthi sekarang, aku pergi!!

Ki + Nyi Dukuh            : Girasmara, Girasmara!!

Adegan III

            Sabaguna telah sampai di Kelurahan Galamba. Tampaknya ia sedang diuji oleh Ki Jagabaya. Mereka berdua adu otot. Sabaguna kelihatan lebih lihai dari Ki Jagabaya. Olah keprajuritan itu disaksikan oleh Ki dan Nyi Lurah. Mereka berdua nampak senang dengan hadirnya Sabaguna di Kelurahan Galamba. Tak lama kemudian olah keprajuritan itu selesai. Ki Lurah bangga.

Ki Lurah                       :  (Tepuk tangan.) Bagus, bagus. Wah hebat kau Sabaguna, gerakanmu lincah dan gesit pantas saja kalau Ki Jagabaya sampai kehabisan tenaga, bukankah betul begitu Ki Jagabaya?

Ki Jagabaya                 :  Betul Ki Lurah. Saya sudah tidak mampu lagi menandingi kecakapan Sabaguna. Dia memang pantas untuk dijadikan pemimpin bagi para pemuda di Kelurahan kita ini Ki Lurah.

Ki Lurah                       :  Ya, ya. Sabaguna?

Sabaguna                     :  Saya Ki Lurah.

Ki Lurah                       :  Apakah hatimu sudah merasa mantap untuk menetap dan mengabdi di Kelurahan ini sebagai prajurit?

Sabaguna                     :  Sudah Ki Lurah. Saya sudah berjanji untuk mengabdikan diri pada bangsa dan negara Ki Lurah.

Ki Lurah                       :  Bagus, bagus. Kalau begitu, Ki Jagabaya?

Ki Jagabaya                 :  Saya Ki Lurah.

Ki Lurah                       : Sabaguna sekarang menjadi tanggung jawabmu. Kau harus memberi pengertian tentang tata cara prajurit kepadanya.

Ki Jagabaya                 :  Akan saya laksanakan Ki Lurah. Selanjutnya, saya dan Sabaguna mohon pamit untuk segera melaksanakan perintah Ki Lurah.

Ki Lurah                       :  O, silakan.

Ki Jagabaya                 :  Ayo Sabaguna.

Sabaguna                     :  Mari Ki Jagabaya.

            Mereka menghaturkan sembah kepada Ki Lurah dan segera pergi meninggalkan pendapa Kalurahan.

Nyi Lurah                     :  Wah senang rasanya hatiku kangmas. Kita sekarang telah memliki prajurit yang tangguh.

Ki Lurah                       :  Ya, ya, itulah yang kita harapkan.

Nyi Lurah                     :  Masih muda, gagah, sopan, ganteng dan penuh semangat. Kalau si Sabaguna yang memimpin para pemuda, pasti Kelurahan kita akan menjadi semakin aman dan tenteram kangmas.

Ki Lurah                       :  Itu pasti, tapi sekarang ada baiknya kalau kita menengok keputren. Ayo Nimas.

Nyi Lurah                     :  Baiklah.

Adegan IV

            Sabaguna sedang bermesraan dengan Kinanthi. Kedua remaja ini memang menaruh hati pada pandangan pertama. Di keputren hanya ada mereka berdua.

Kinanthi                        :  Kakang Sabaguna…

Sabaguna                     :  Iya Kinanthi.

Kinanthi                        :  Sebetulnya aku telah lama… ehm… ah sulit aku mau mengatakannya.

Sabaguna                     :  Kinanthi, janganlah begitu. Aku tahu bahwa kau telah menaruh hati padaku sejak pertama kita bertemu, iya kan?

Kinanthi                        :  Ah kakang ini bisa-bisa aja menebak, memangnya kakang dukun?

Sabaguna                     :  Bukan begitu Kinanthi, karena sesungguhnya aku juga menaruh perasaan yang sama.

Kinanthi                        :  Ah masak…

Sabaguna                     :  Janganlah kau malu Kinanthi. Cahya bulan meredup, awan berarak putih bersih di malam dingin. Aku sendiri terbayang dara jelita berparas elok. Angin semilir mengabarkan cinta padaku. Ku hembus napas dan berujar aku cinta padamu.

Kinanthi                        :  Ah kakang ini lho pakai puisi segala…

Sabaguna                     :  Kinanthi, sukakah kau padaku?

Kinanthi                        :  Ehm bagaimana ya?

Sabaguna                     :  Kinanthi,…

Kinanthi                        :  Kakang Sabaguna,… (Menghampiri dan memegang tangan Sabaguna dengan lembut. Sekali lagi dengan lembut.) Sejak pertama aku melihat kakang perasaanku tak menentu. Aku selalu ingin dekat dengan kakang terus. Kakang Sabaguna…

Sabaguna                     :  Kinanthi… (Sabaguna hendak mencium kening Kinanthi, tapi tiba-tiba Ki Lurah datang dan menghadik!)

Ki Lurah                       :  Sabaguna!! (Melepaskan Kinanthi dari dekapan Sabaguna.) Ternyata kebaikanmu selama ini mempunyai maksud tertentu. Pergi kau dari sini Sabaguna! Pergi!

Kinanthi                        :  Rama!

Sabaguna                     :  Ampunkan saya Ki Lurah, saya tidak bermaksud….

Ki Lurah                       :  Pergi sekarang juga atau, (Menghunus keris)

Kinanthi                        :  Jangan rama!

Sabaguna                     :  Baiklah Ki Lurah saya akan pergi, Kinanthi, aku berjanji kita akan bertemu kembali. (Sabaguna pergi.)

Kinanthi                        :  Kakang… (Menangis, akan tetapi Ki Lurah langsung menyeretnya masuk ke dalam.)


Adegan V

            Sabaguna memasuki hutan dan ia memohon pertolongan kepada dewa atas nasib yang menimpanya.


Sabaguna                     :  Sial benar nasibku, ehm, aku akan mohon petunjuk dewa penguasa alam semesta. (Bersemadi.) (Tidak lama kemudian Dewa Narada turun dari kahyangan.)

Narada                         :  Bangunlah cucuku, ada apa gerangan engkau melantunkan doa perkohonan kepada dewa?

Sabaguna                     :  Saya sedang ditimpa kemalangan ya dewa, saya mencintai seorang gadis akan tetapi orangtuanya tidak suka dan mengusir saya.

Narada                         :  Persoalan seperti itu sering terjadi di dunia ini cucuku. Sebetulnya engkau tidak perlu mohon petunjuk padaku, gunakanlah ilmu kesaktianmu, menyamarlah dan tetap selalu dekat dengan jantung hatimu.

Sabaguna                     :  Oh, terimakasih dewa saya akan melaksanakan nasehat paduka.

Narada                         :  Tapi ingat, berbuatlah selalu di jalan yang benar. Cinta kasihlah yang telah melahirkan dunia, junjung tinggi dan hargai itu. Sudah begitu saja cucuku aku akan kembali ke kahyangan.

Sabaguna                     :  Bakti saya paduka. (Narada pergi kembali ke kahyangan.) Betul nasehat dewa Narada, akan aku laksanakan. Kinanthi tunggulah kedatanganku.

Adegan VI

            Growol dan Gones abdi keputren sedang menghibur tuan putrinya, Kinanthi. Suasana hati Kinanthi semakin tak menentu semenjak kepergian Sabaguna.

Growol :                       Sudahlah tuan putri, tidak usah dipikir terlalu jauh nanti malah tuan putri jatuh sakit.

Gones                          :  Iya tuan putrid, kalau memang denmas Sabaguna itu cinta sama tuan purti pasti bakal datang lagi ke sini, iya to kang?

Growol :                       Tentu saja wong namanya sudah cinta kok.

Gones                          :  Tuan putri kok diam saja to?

Kinanthi                        :  Aku selalu memikirkan kakang Sabaguna emban, mengapa kanjeng rama tidak mengijinkan ia menjadi kekasih hatiku, aku bingung.

(Dari jauh terdengar suara Girasmara membaca syair dengan keras dan terus berjalan menghampiri Kinanthi)

Girasmara                     :  Kinanthi pujaan hati, siang malam selalu kunanti. Kinanthi oh Kinanthi engkaulah pelita hati. (Sampai di depan Kinanthi langsung menangkap tangannya. Kinanthi menjerit.) Kiananthi hari ini juga kau akan mendampingi hidupku, ha ha ha…

Kinanthi                        :  Hei kau ini siapa!

Girasmara                     :  Aku Girasmara pahlawan hidupmu, ayo sekarang juga kau ikut aku Kinanthi!

Kinanthi                        :  Jangan, jangan, tolong, toloong! (Kinanthi mencoba berontak tapi tangan Girasmara terlalu kuat. Growol dan Gones hendak menolong tapi ditendang oleh Girasmara. Kinanthi menjerit semakin keras.) Tolong, tolooong!

Datanglah seketika seekor monyet merah melabrak Girasmara. Mereka lalu berkelahi dan Girasmara kalah. Monyet itu langsung membawa lari Kinanthi yang terus saja menjerit-jerit.


Adegan VII

            Kinanthi dibawa lari oleh monyet sampai pinggiran hutan. Ki Lurah datang menyusul.

Ki Lurah                       :  Berhenti kau monyet keparat, lepaskan putriku!! Jika tidak kau lepaskan tamatlah riwayatmu!!

Ki Lurah langsung melabrak monyet merah. Mereka bergumul dan Ki Lurah terjerembab. Keris Ki Lurah dihunus oleh monyet merah. Ketika keris hendak dihujamkan ke dada Ki Lurah, mendadak seekor monyet putih muncul langsung menyerang monyet merah. Kedua monyet berkelahi. Monyet putih berhasil memenangkan pertarungan, ketika monyet putih hendak memukulkan tinjunya, monyet merah bersuara…


Monyet Merah             :  Berhenti, jangan kau bunuh aku!

Monyet Putih                :  He monyet apa kau ini, mengapa bisa berbicara?

Monyet Merah             :  Aku memang monyet yang bisa bicara. Kau sendiri juga seekor monyet tapi bisa juga bicara.

Monyet Putih                :  Sebenarnya kau ini siapa?

Monyet Merah             :  Kau juga siapa?

Monyet Putih                :  Baik, akan aku tunjukkan siapa diriku sebenarnya.

Monyet Merah             :  Kalau memang maumu begitu, baiklah.

Kedua monyet mengelurakan mantranya masing-masing. Bentuk monyet mendadak berubah. Monyet merah menjadi Sabasekti dan monyet putih menjadi Sabaguna. Kedua mereka langsung berangkulan.


Sabasekti                     :  Saba guna!

Sabaguna                     :  Saba sekti! (Mereka saling menepuk bahu. Kinanthi langsung menubruk ketika Sabaguna menoleh padanya.)

Kinanthi                        :  Kakang Sabagunaaa… (Ki Lurah hendak melarang tapi langsung dicegah oleh Sabasekti.)

Ki Lurah                       :  Kinanthi!!

Sabasekti`                    :  Sudahlah Ki Lurah, anda tidak perlu begitu. Saya sudah tahu cerita perjalanan cinta Sabaguna dan Kinanthi. Kedatangan saya menyamar sebagai monyet di sini hanya untuk menyelamatkan Kinanthi dari tangan Girasmara dan saya ingin melihat Sabaguna hidup bahagia dengan Kinanthi. Seharusnya Ki Lurah menyetujui karena memang sudah begitu seharusnya.

Sabaguna                     :  Ampun Ki Lurah saya memang telah jatuh cinta dengan anak Ki Lurah ini.

Kinanthi                        :  Saya juga jatuh cinta sama Kakang Sabaguna ini kok rama.

Sabasekti                     :  Bagaimana Ki Lurah?

Ki Lurah                       :  (Menarik napas dalam.) Baiklah, sebagai orangtua aku harus menuruti kemauan anak, selama itu tidak melanggar kebaikan. Kalau begitu ada baiknya kita bicarakan ini di kelurahan, mari.

Mereka semua berjalan mengirngi Ki Lurah menuju pendapa kelurahan untuk membicarakan pernikahan Sabaguna dan Kinanthi.

Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar